Tuesday, October 20, 2015

Tips Mencintai Local Brand Negeri Sendiri #SmescoNV


Berbicara tentang Local Brand, saya selalu teringat dengan yang namanya gedung SMESCO Indonesia, tepatnya ada di Jakarta Jalan Gatot Subroto Kav 4, Jakarta Selatan.  Gedung SMESCO merupakan pusat UKM Gallery yang memajang berbagai macam lokal brand yang berasal dari berbagai macam daerah di seluruh pulau Indonesia serta pusat konvensi, ruang pertemuan dan kantor. Tahu sendiri kan, berapa pulau yang ada di Indonesia? Ribuan kan? Lalu berapa banyak hasil kebudayaan yang dihasilkan dari masing-masing pulau itu? Haduh…ngitungnya gak kebayang deh. Perlu riset yang panjang. Sudah tahu kan kalau Indonesia itu kaya banget. Saking kayanya budaya masing-masing daerah, tidak aneh deh, kalau orang asing banyak yang tertarik dengan budaya di Indonesia. Bahkan tak jarang mereka juga dibela-belain kursus dan belajar seluk beluk kebudayaan yang dimiliki oleh tiap daerah di Indonesia ini. Kalau sudah begini, apa kita sebagai orang Indonesia sendiri jadi gak cinta dengan budaya sendiri. Budaya itu kan juga local brand kita. Harga diri kita sendiri. Kalau diakui oleh negara lain, kita hanya bisa apa coba?
 
Tentang SMESCO Netizen Vaganza

Sebagai penduduk rantau yang baru tinggal di Jakarta ini, saya baru pertama kali ini datang ke Gedung UKM Gallery di SMESCO dalam rangka SMESCO Netizen  Vaganza 2015 yang diadakan tanggal 26-27 September 2015 kemarin. Dalam acara ini tidak hanya penampilan panggung seni budaya dan live music dari para siswa sekolah, tapi juga ada acara workshop dan talkshow dari beberapa narasumber yang kece dan ngetop abis deh, diiantaranya yaitu Agustinus Wibowo yang berbicara tentang  'Travel Writing' dan Sacha Stevenson berbicara tentang 'Vlog Tips and Trik'. Seneng banget deh ketemu mereka yang sudah para ahli itu. Saya jadi banyak belajar dan dapat banyak ilmu dari mereka.jadi tidak rugi kalau sesekali datang ke acara seperti ini. 

Food truck dan stand makanan serta panggung music di SMESCO (foto milik pribadi)


Saya berangkat dari pagi hari sampai sore hari, berkutat saja di gedung SMESCO. Beruntung ada teman yang setia menemani, belahan jiwa dan cinta sejati yaitu suami saya. Hitung-hitung jalan-jalan sambil menyerap ilmu. Di gedung SMESCO ini juga terdapat supermarket Seven Eleven kalau kita butuh cemilan-cemilan ringan. Tapi juga ada lo, food truck dengan berbagai macam makanan local yang disediakan untuk memenuhi hasrat kelaparan para pengunjung. Mulai dari gudeg, pecel, soto, bakso, siomay, sate padang, es teller dan banyak lagi deh. Semuanya adalah makanan local Indonesia juga. Asal punya duit, makan apa saja oke lah ya. Yang penting gak kelaparan selama seharian di gedung SMESCO.

 
Berpose dulu di salah satu galery produk kayu SMESCO (foto milik pribadi)

Nah..sebelum acara di mulai, saya sih sempat keliling-keliling di tiap lantai SMESCO ini. Wow…keren amat sih pajangan hasil karya local brandnya yang terpampang dari Sabang sampai Merauke. Semuanya dipajang di etalase tiap lantai gedung SMESCO ini. Ada stand-stand tersendiri dengan diberi nama daerahnya pada bagian depannya. Saya yang penyuka seni dan budaya jadi riang gembira, melihat yang cerah-cerah dari budaya Indonesia ini. Apalagi di salah satu stand tersebut saya melihat batik tulis hasil daerah asal saja, dipajang begitu cantik dan indahnya. Yap… asal saya Madura dan batik tulis Madura itu tuh kebangsaan daerah saya. Apalagi warna kainnya cerah dan cantik-cantik. 

 
Batik tulis Madura di salah satu galery UMKM SMESCO (foto milik pribadi)


Berputar-putar dari lantai satu ke lantai lain, makin kece aja nih hasil seni budaya berbagai daerah di Indonesia. Hasil kerajinan dari tiap daerah itu unik dan khas mulai dari dompet, tas, topi, baju, rok, atasan, hem, makanan dan minuman, sepatu, sandal, dan masih banyak lagi. Kalau mau tahu, mending langsung datang deh ke gedung SMESCO. Dijamin para pecinta etnik pasti suka deh ke tempat ini. Hanya saja harganya sedikit mahal daripada kalau kita beli langsung di daerah asalnya. Sebanding jugalah ya harganya, daripada kita pergi langsung ke daerah asalnya kan butuh biaya akomodasinya. So, jatuhnya mahal juga kan? Bagi saya harga gak masalah untuk sebuah produk lokal, asalkan kualitasnya bagus dan gak kalah dengan produk luar negeri.. Tapi kan namanya seni dan budaya itu pasti mahal dong, dan ini berbanding lurus juga dong dengan kualitas produk lokal yang dihasilkan. Saya sendiri jadi tahu, kalau menelusuri dan mengamati tiap hasil seni dan budaya dari masing-masing daerah di Indonesia itu menjadikan saya paham dan mengenal local brand yang dimiliki tiap daerah. Wawasan saya jadi bertambah dan tidak perlu jauh-jauh ke daerah asalnya. Cukup di gedung UKM Gallery SMESCO semua local brand itu ada. 

Local brand berupa sepatu batik di galery UMKM SMESCO (foto milik pribadi)
 
Karya tangan berupa suvenir di galery UMKM SMESCO (foto milik pribadi)



 
Suvenir dinding dan meja di galery UKM SMESCO (foto milik pribadi)
 
Local brand minuman di galery UMKM SMESCO (foto milik pribadi)
 
Stand produk-produk lokal dari Provinsi Jambi (foto milik pribadi)

Apa Itu Local Brand

Sebuah produk disebut sebagai Local Brand apabila memenuhi 4 syarat yaitu:
  1. Produk tersebut terbuat dari bahan yang berasal dari dalam negeri. Bahan yang dimaksud disini adalah bahan baku untuk pembuatan produknya berasal dari negeri sendiri. 
  2. Tenaga kerjanya juga berasal dari dalam negeri. Nah… dalam hal ini perusahaan atau brand tertentu yang membuat produk mempekerjakan orang-orang Indonesia sendiri dan tidak perlu mendatangkan pekerja asing untuk membuat dan memproduksinya.
  3. Produk tersebut menggunakan merk lokal.Merk Lokal disini seharusnya menggunakan nama dengan penggunaan Bahasa Indonesia atau Bahasa Daerah.
  4. Kepemilikan perusahaannya adalah milik lokal juga.  Nah ini nih, jangan sampai produk yang dihasilkan adalah produk lokal tapi yang memiliki adalah perusahaan luar negeri. Wah bisa berabe deh jadinya.
Nah, dari keempat hal tersebut, apabila salah satu atau keempat syarat tersebut dipenuhi maka produknya bisa disebut sebagai local brand. 

Salah satu produk local yang bisa saya contohkan adalah produk buatan sendiri dari seorang teman saya. Merknya bernama "NUNOBI".  Pemiliknya adalah Dian Nobi. Dia membuat produksi sendiri baju-baju dan gaun-gaunnya dengan menonjolkan bahan lokal dan budaya daerah yaitu tenun ikat. Untuk memperindah desain rancangannya dia kombinasikan dengan bahan lain yang sekiranya tetap menonjolkan ciri khas dari kain tenun tersebut. Karyanya sudah mulai melebarkan sayap ke seluruh penjuru nusantara. Melalui karyanya, dia ingin memperkenalkan salah satu budaya daerah dari Indonesia yang belum membumi. Mudah-mudahan dengan karyanya, local brand sendiri menjadi banyak yang menyukai terutama masyarakat Indonesia sendiri.
Local Brand karya teman saya dari tenun ikat (foto milik Nunobi)


Kalau nanti saya mau membuat local brand sendiri, otomatis salah satu syarat diatas harus terpenuhi dong. Kebetulan nih saya berasal dari salah satu daerah di Madura. Ciri khas Madura itu terkenal dengan batik tulis Maduranya. Sebagai anak bangsa yang cinta dengan daerahnya saya seringkali menggunakan batik tulis Madura yang berupa kain kemudian dijahit sendiri dan digunakan sendiri baik itu untuk gaun maupun untuk atasan. Tak heran juga sih, ternyata setelah saya memakainya, banyak juga lo yang tertarik dengan batik tulis Madura yang saya pakai. Bahkan saya harus mengorder kain batik dari daerah saya sendiri untuk dijual kepada teman saya di Jakarta ini. Lumayankan, selain mengenalkan produk daerah sendiri, juga bisa mendukung semangat mencintai budaya sendiri. 
Koleksi kain Batik Tulis Madura saya sendiri (foto milik pribadi)
 
Saya dan baju batik tulis Madura di tempat pembuatan batik tulis (foto milik pribadi)

Apalagi ketika saya melihat local brand batik tulis Madura saya dipajang di etalase SMESCO kemaren. Wahh.. bahagianya gak ketulungan deh. Seneng produk daerah saya bisa ada disana dan dilihat oleh banyak orang. Kalau bisa sih, nanti orang luar negeri juga mengenal lah ya produk dari daerah saya.

Local brand di Indonesia ini sangat banyak sekali, mulai dari produk pakaian, makanan dan minuman bahkan sampai dekorasi rumah tinggal. Memang benar orang indoensia itu kreatif. Bagaimana tidak kreatif, toh hasil produk yang dihasilkan tidak kalah kok kualitasnya dengan produk luar negeri. Local Brand Indonesia itu unik dan punya ciri khas, jadi sebisa mungkin tidak bisa diakui oleh negara lain. Jangan sampai lah itu terjadi.

Mengapa Harus Local Brand

Sudah saya paparkan diatas bahwa Indonesia terdiri dari berbagai daerah dan pulau yang tersebar luas di wilayah nusantara. Tentunya dong tiap daerah memiliki kekhasan dan keunikan produk yang dimilikinya. Apalagi orang Indonesia itu kreatif dan pintar-pintar contohnya seperti Bapak Habibie yang merupakan putra bangsa dan sudah menciptakan pesawat buatannya sendiri bahkan sudah diproduksi dan dipasarkan. Masih mau minder bagaimana lagi sih masyarakat kita ini dalam keberanian untuk menciptakan produk sendiri? Justru harus bangga dong ya.

Berhubung saat ini memasuki era perdagangan pasar bebas dunia yaitu era MEA (Masyarakat Ekonomi Asean), so sebagai negara yang masih berkembang, kita jangan sampai dong kalah dan tergerus dengan negara-negara maju lainnya. Maka dari itu perlulah kiranya bahkan wajib hukumnya untuk mengembangkan dan menggalakkan upaya mencintai local brand Indonesia sendiri. Kalau masyarakat Indonesianya sudah tidak cinta dengan produk sendiri, bagaimana nasib negara kita di perdagangan pasar bebas nanti? Haruskah terbenam begitu saja? Oh tidak, jangan sampai ya.

Dari hal tersebut diatas, pastinya kita harus bergerak cepat untuk maju dalam perdagangan pasar bebas nanti. Salah satu caranya dengan mencintai local brand Indonesia agar menjadi ujung tombak pemicu kebangkitan produk negara kita di pasar bebas nanti. Terutama nih pengusaha-pengusaha kecil yang sudah mulai banyak muncul di permukaan dan sampai detik ini belum berani menonjolkan diri. Dengan memajukan local brand yang kita punya pastinya perkembangan ekonomi negara kita akan membaik dan rakyat Indonesia bisa lah ya lebih sejahtera lagi hidupnya. Bahkan tidak ada lagi yang namanya pengangguran menjamur di setiap sudut kota. Ya… sebab kalau local brand Indonesia sudah maju dan meningkat, pastinya dibutuhkan para pekerja yang lebih banyak lagi sehingga pendapatan lebih tinggi lagi. Betul tidak kawan?

Tips Mencintai Local Brand

Indonesia sendiri sebenarnya banyak memiliki local brand yang berkualitas oke punya. Bahkan tak kalah juga dengan brand luar yang saat ini sangat diminati berbagai kalangan masyarakat terutama mereka yang tak ingin dibilang kuno. Namun sayang sekali, local brand yang ada malah tak terdengar ngaungnya, karena banyak hal yang mempengaruhinya. Padahal sejatinya orang Indonesia itu sangat kreatif dan suka seni budaya. Rasa percaya diri untuk menonjolkan local brand yang dimiliki oleh masyarakat Indonesia saja yang kurang ditingkatkan. Tidak hanya itu, banyak hal yang mempengaruhi local brand tidak menjadi idaman bagi orang Indonesia sendiri, diantaranya yaitu:

  1. Kurangnya rasa percaya diri bahwa produk local brand lebih berkualitas dan lebih unggul.
  2. Kurang adanya promosi dan strategi pemasaran untuk memperkenalkan local brand kepada masyarakat, baik itu melalui brosur, spanduk, flyer bahkan radio, majalah, Koran dan televisi.
  3. Kurang adanya dukungan dari masyarakat, pemerintah dan swasta dalam memajukan dan mempromosikan local brand Indonesia sendiri karena kebanyakan masyarakat kita lebih mendukung brand luar negeri.
  4. Masyarakat banyak terpengaruh oleh kualitas brand-brand impor, karena terlihat lebih keren dan mewah meskipun dengan harga yang sangat mahal.
  5. Adanya hasrat untuk meniru gaya hidup/lifestyle negara maju yang terlihat lebih modern daripada negara sendiri. Hal ini terutama banyak terlihat dari tayangan-tayangan di televisi sehingga memunculkan persepsi gaya hidup yang berbeda dari budaya negeri sendiri.
  6. Kurang adanya rasa cinta, rasa memiliki dan menghargai  terhadap seni budaya dan local brand Indonesia sendiri.
  7. Kurang kuatnya basis perekonomian kemasyarakatan di dalam negeri.
  8. Kurang adanya workshop dan pelatihan serta seminar-seminar mengenai  cara meningkatkan kualitas dan nilai jual dari local brand dalam negeri serta cara untuk memasarkan local brand tersebut.
Nah, banyak sekali kan halangan yang membuat local brand kita terbenam sampai detik ini. Maka dari itu, halangan-halangan tersebut harus segera diatasi dan dicari solusinya. Mengatasi dan memecahkan solusi tidak hanya tugas produsen local brand itu sendiri lo. Tapi juga perlu adanya dukungan, support dan motivasi dari Pemerintah dan Pihak swasta. Kalau hanya salah satu saja yang bekerja, mustahil local brand akan mendunia di era perdagangan pasar bebas nanti. Mulai dari sekarang, sebaiknya tidak hanya cuap-cuap saja, tapi tindakan yang diperlukan untuk memujudkan mendunianya local brand negara kita. 

Dilihat dari kacamata perkeonomian rakyat Indonesia, orang Indonesia itu kaya-kaya lo. Buktinya nih, kebanyakan dari mereka jalan-jalan ke luar negeri sambil shooping produk-produk sana. Biaya untuk kesana dan shooping saja sudah banyak kan? Bahkan lifestyle yang dipakai pun saat ini sudah brand-brand luar semua. Padahal nih, produk luar itu mahal banget harganya. Apalagi kalau sudah diimpor ke negara kita. Nah.. masak iya sih untuk membeli local brand dari negeri sendiri yang harganya juga setara dengan brand luar saja tidak mau dan tidak mampu. Aneh kan? Sebenarnya kesalahan ini ada dimana sih? 
 
Banyak cara sih yang harus dilakukan agar local brand kita menjadi menonjol, diantaranya yaitu:
  1. Pertama kali sebenarnya harus benar-benar tulus dan ikhlas bahkan berani untuk mencintai local brand sendiri. Nah..dimulailah dari diri sendiri. Kalau diri kita sendiri sudah cinta, baru deh sebarkan dan tularkan pada anak-anak, saudara dan orang-orang di sekitar kita. Sehingga semakin banyak yang cinta dengan produk Indonesia sendiri.
  2. Kalau sudah cinta, otomatis dong senang memakai dan menggunakan produk-produk sendiri mulai dari benda-benda terkecil sampai yang paling besar. Memakai dan menggunakan juga diharapkan membeli dan mengkoleksinya. Terutama kalau ada pameran atau bazaar-bazar yang banyak memamerkan dan menjual produk-produk local. Meskipun harganya mahal, kalau sudah cinta pasti kebeli deh. Jangan cuma dilihat saja, tapi dibeli, dicoba dan dipakai. Kalau semua local brand dibeli dan dipakai oleh orang Indonesia sendiri, bakalan makmur deh negara kita.
  3. Jangan pernah malu bikin local brand sendiri. Kerahkan kemampuan, skill dan kreatifitas kita agar local brand yang kita buat menarik, bermutu, dan berkualitas bahkan tidak kalah dengan produk luar. Berhubung saya seorang netizen dan sekaligus suka membuat local brand sendiri, saya usahakan menulis apa yang saya buat di blog, bisa berupa proses pembuatannya atau tutorial, bahannya dan asalnya.
  4. Patenkan local brand yang kita punya segera mungkin sehingga kecil kemungkinan akan ditiru dan diakui oleh negara lain. Cara mematenkannya cukup dengan mendaftarkan brand kita ke perlindungan hak konsumen yaitu di Direktorat Jenderal Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI). Pematenan local brand ini harus disosialisasikan ke berbagai kalangan produsen dan pemilik local brand di seluruh Indonesia, karena sebagian besar dari mereka tidak paham dan masih belum mematenkan produknya di HAKI.
  5. Lakukan pengemasan produk dengan menarik, unik dan indah sehingga banyak orang yang akan tertarik untuk membelinya.
  6. Lakukan promosi dan pemasaran dengan mekanisme promosi yang juga menarik minat pembeli. Promosi dan pemasaran bisa dilakukan dimasa saja baik di medsos, majalah, dari mulut ke mulut, radio, televisi atau menggunakan brosur, flyer, dan spanduk. Pasarkanlah dan promosikanlah dengan cara marketing yang baik dan menarik. Pemasaran dan promosi ini tentunya banyak membutuhkan bantuan semua pihak, baik itu masyarakat, pemerintah atau swasta. Nah, bagi netizen seperti saya, tiap kali mendatangi acara pameran atau bazaar, usahakan buatlah reportase dengan tulisan yang menarik di blog. Pajang semua foto-foto dari produk lokal yang dipamerkan. Supaya seluruh dunia mengenai local brand kita melalui tulisan kita. Tapi perlu diingat menjadi netizen reportase jangan mengharap dibayar dulu ya, karena bayaran pasti akan mengikuti. Menulislah dulu dengan hati dan tulus ikhlas.
  7. Nah, kalau local brand yang kita punya sudah dibangun, maka supaya tetap bertahan kuatkanlah dan pertahankanlah kualitas barang serta citra dari brand yang kita punya. Jangan sampai hanya gara-gara kesalahan atau mengurangi kualitas sedikit saja, akan berdampak terhadap kurangnya kepercayaan masyarakat terhadap local brand tersebut. Justru masyarakatlah yang akan membantu dan mendorong proses naik turunnya local brand kita di pasaran. Intinya menjaga kepercayaan pelanggan lah ya.
  8. Pakailah brand-brand dengan menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa daerah sehingga ciri khas dan keunikannya tercipta dari nama-nama tersebut. Saya yakin, brand-brand dengan nama Indonesia atau daerah kita gak kalah saing kok dengan brand-brand menggunakan nama-nama bahasa negara lain.
  9. Mengembalikan gaya hidup/lifestyle yang kebarat-baratan kembali menjadi lifestyle kebudayaan sendiri. Artinya kita harus jadi diri kita sendiri dan tak perlulah meniru-niru orang lain yang sebenarnya lifestylenya tidak sesuai dengan budaya timur Indonesia. Mengembalikan gaya hidup bisa dengan tidak lagi mengoleksi produk-produk luar. Tapi mulai menggunakan produk-produk dalam dan selalu hidup dengan sederhana tanpa mementingkan produk luar yang selalu terlihat prestice. Nah, buat netizen pada umumnya terutama yang berfokus pada bidang lifestyle, ayo dong angkatlah lifestyle budaya dan produk kita agar lebih dikenal oleh masyarakat sendiri. Jika sudah dikenal tidak mustahil dong lifestyle negara sendiri akan membudaya dan menggaung hingga ke luar negeri.
  10. Kurangi dan saringlah  tayangan-tayangan atau iklan yang lebih banyak menonjolkan local brand luar  terutama bagi pihak pertelevisian. Tapi perbanyaklah tayangan atau iklan tentang local brand negeri sendiri. Sebab iklan dan tayangan itu sangat berpengaruh besar terhadap gaya hidup masyarakat kita terutama bagi anak-anak yang masih memiliki sifat meniru dan belum bisa membedakan sesuatunya. Bagi pihak pertelevisisan jangan hanya menguatamakan keuntungan bisnis semata tapi yang utama adalah apakah tayangan/iklan itu mampu menciptakan pola pikir dan gaya hidup masyarakat Indonesia lebih sederhana, berbudaya dan beradab lagi.  
  11. Untuk para produsen produk lokal, berbisnis itu bukan untuk diri sendiri, buatlah komunitas  pebisnis produk local, sehingga bisa sharing pengalaman bisnisnya kepada yang lain. Bekerjasamalah dengan masyarakat, pemerintah dan swasta untuk membuat seminar dan workshop tentang bisnis produk lokal yang dibisa dihadiri oleh semua kalangan, kalau perlu biayanya gratis dan murah. Karena selama ini yang saya tahu, setiap seminar bisnis produk terutama dari para pebisnis ternama itu selalu mahal dan tidak bisa dijangkau biaya pendaftarannya. Otomatis, bagi kalangan menengah kebawah yang ingin punya ilmu dari seminar dan workshop tidak bisa menikmati juga. Sayang kan ilmu kok cuma untuk kalangan tertentu saja. Ilmu tuh harus meluas keseluruh kalangan. Nah, untuk kalangan netizen, usahakan tularkan ilmu bisnisnya kepada masyarakat melalui blognya, sehingga bermanfaat bagi orang banyak.

Sudah tahu kan apa itu local brand dan bagaimana agar local brand itu semakin dicintai oleh masyarakat kita? Semuanya sudah saya jelaskan diatas. Faktor utama untuk memulai itu semua adalah dari diri sendiri. Marilah mencintai local brand sendiri. Local brand itu gak jadul kok. Bahkan lebih keren dan lebih unik. Gaungkan negeri kita sendiri ke seluruh dunia bahwa karya kita pun bisa lebih membahana dan mencetarkan lifestyle dunia. Buktikan bahwa jati diri kita itu adalah budaya yang kita bawa dan kita tanam di hati. Mulailah dari diri sendiri. Dari generasi muda seperti saya. Karena di tangan kitalah, brand negeri sendiri akan tetap jaya dan bertahan di kancah internasional.



sumber:
http://www.medanbisnisdaily.com/news/read/2014/08/24/113370/brand-lokal-akan-naik-daun/



2 comments:

Arinta Setia Sari said...

Cakep2 ya produk yg tampil di SMESCO :)

FaniaSurya said...

@arinta iya mba..cakep-cakep produknya... skali-sakli kujungi SMESCO yuk mb.:)

Cek-E, Aplikasi untuk Pengguna E-Money pada IWIC 11

Saat ini semua aktivitas dalam bidang apapun sudah mulai mengarah ke teknologi digital. Semua serba canggih dan praktis. Cara-cara konvens...