Rahasia di Balik Mading Sekolah

Mengingat kembali jaman sekolah dulu saya selalu tersenyum-senyum sendiri. Kenakalan, kekonyolan dan kelucuan serta kreatifitas siswa itu benar-benar jujur dan tanpa dosa. Masa sekolah menjadi masa-masa yang selalu dikenang.



Selama sekolah mulai SD, SMP sampai SMA pasti selalu ada yang namanya Mading atau Majalah Dinding. Segala macam kreatifitas dan karya kita dibolehkan dicantumkan dan ditempel di Majalah Dinding tersebut agar dibaca dan diketahui oleh seluruh warga sekolah baik guru maupun para siswa. Biasanya Mading ini dikelola oleh OSIS.   Setiap minggunya OSIS mengganti artikel di Mading sekolah agar tidak bosan dan bervariasi. 

Saya sendiri tak banyak berperan dengan Mading ini karena saya dulu adalah pemalu. Tapi kemudian di jaman SMA saya mulai memberanikan diri untuk menampilkan karya saya di Mading yaitu sebuah karya puisi. Karena memang sejak sekolah saya suka menulis puisi dan cerita-cerita pendek. Eh tapi sekarang sudah jarang banget bikin cerpen. Kalau untuk puisi sih sampai sekarang masing sering saya buat dan saya taruh di blog. 

Saat itu saya lupa tema puisi yang saya kirim ke Mading dan puisi saya hanyalah puisi biasa-biasa saja berbau cinta gitu deh. Tidak ada yang heboh ataupun sampai terkagum-kagum dengan karya saya. Yang penting  waktu itu saya mempunyai keberanian untuk menampilkan karya walaupun sekedarnya.

Tidak hanya puisi saja yang harus ditampilkan di Mading sekolah. Banyak hal yang bisa ditampilkan diantaranya yaitu cerpen, tips and trips, saran dan kritik, acara-acara sekolah atau segala macam yang berhubungan dengan sekolah dan kreatifitas.

Biasanya murid-murid yang sering menampilkan karyanya di Mading sekolah adalah murid-murid yang suka berkarya dan berkreatifitas. Dan anak-anak itu adalah anak yang punya ide-ide unik serta lucu. Kadangkala juga ditampilkan cerita-cerita lucu yang bisa dinikmati dan menjadi hiburan para siswa yang lain.

Majalah dinding atau lebih dikenal dengan singkatannya “MADING” yaitu salah satu jenis media atau sarana penyampaian informasi dan penyaluran minat dan bakat yang dikerjakan dan dikelola oleh kelompok tertentu serta diperuntukkan untuk kalangan tertentu pula.

Mengingat masa-masa Mading di sekolah saya kembali teringat tentang sebuah film Indonesia yang fenomenal banget sampai sekarang yaitu Ada Apa Dengan Cinta. Sebuah cerita anak-anak SMA tentang persahabatan 5 sekawan yaitu Cinta, Milly, Arya, Karmen dan Maura yang tergabung dalam tim Mading sekolah dan tiap bulannya harus membuat bahan Mading untuk sekolah. Hingga akhirnya terjadi kisah cinta antara Cinta dan Rangga yang berawal dari Mading tersebut. Aih. Aih. Romantis sekali. 

Sampai-sampai saya berandai-andai coba saja puisiku juga menjadi kisah cinta antara Rangga dan Cinta. Aduh, terlalu tinggi saya berkhayal. Toh saya saat itu bukan siapa-siapa. Dan siapa sih yang bakalan tertarik dengan puisiku yang tak berarti apalagi dengan orangnya ya. Saya saja kalah jauh dengan cewek-cewek cantik di sekolah ini. Kalau Cinta di AADC kan selain pintar,  kreatif, cantik pula. Loh kok malah dibanding-bandingkan  dengan si Cinta sih? Siapa saya? Artis juga bukan, ya?

Ah sudahlah. Mari lanjut lagi dengan pembicaraan soal Mading sekolah. Sebenarnya tak ada yang berkesan banget dengan cerita Mading sekolah di sekolah saya. Cukup itu saja sih. Tapi ada sedikit rahasia yang ingin saya ungkap. Yaitu saat itu saya membuat puisi di Mading di sekolah karena saya berharap  cowok inceran saya yaitu ketua OSIS saat itu bisa membaca puisi saya. Saya sedang menArik perhatian dia. Siapa tahu dia tertarik dengan orang yang menulis puisi tersebut yaitu saya, seperti kisah Cinta dan Rangga Tapi kenyataan berbanding terbalik.  Yap, tidak ada respon yang berarti dari cowok inceran saya. Ah, ya sudahlah. 

Setelah itu saya tak berniat untuk mengirimkan kembali karya saya ke Mading sekolah. Karena sudah mutung duluan. Aih, saya kegeeran dan terlalu optimis ya. Namanya saja anak-anak ya, mana ada sih dewasa-dewasanya. Selalu ingin mencari perhatian. Baiklah. Tidak usah dibahas lagi. Cukup sekian saja yang bisa saya ceritakan tentang Mading sekolah dan pengalaman saya selama ini. Ingat ya, rahasianya jangan disebar ke siapa-siapa, nanti inceran saya itu kegeeran. Upss. ini hanya masa lalu dan tidak perlu diingat kembali. Bye. Bye Mading sekolah. 


Comments