Impian Memiliki Rumah Pertama Setelah Pernikahan

Impian Memiliki Rumah Pertama Setelah Pernikahan- Rumah pertama menjadi impian setiap orang terutama bagi yang sudah menikah atau berkeluarga. Siapa sih yang nggak ingin punya rumah dan langsung menempati rumah sendiri setelah menikah? Impian banget bukan? Karena rumah adalah tempat bernaung sepanjang masa dan dalam waktu yang lama. Iya, itu adalah impianku yang terdalam sampai saat ini setelah 7 tahun pernikahan dan masih menumpang di rumah mertua. Rasanya kalau belum punya rumah sendiri itu masih terasa ada yang kurang dalam berumah tangga. Ingin bebas mengatur rumah sendiri baik interior maupun eksteriornya. Jadi nggak ada rasa sungkan mengatur rumah kalau rumah itu adalah rumah sendiri kan? 

Rumah Pertama Orang Tuaku 


Sebagai lulusan Sarjana Arsitektur, tentu berharap impian punya rumah pertama setelah pernikahan itu besar banget. Kenapa dulu ngebet kuliah Arsitektur? Supaya aku bisa mendesain rumah pertamaku sendiri sesuai dengan selera dan keinginan sendiri dengan berbekal ilmu Arsitektur. Membangun rumah itu tetap harus ada teori, cara dan aturannya sehingga hasilnya memuaskan. Selain itu rumah yang aku rancang bisa terkonsep dan tertata dengan baik mulai dari denahnya, strukturnya, sanitasinya, juga termasuk desain interior dan eksteriornya. Seneng deh kalau punya rumah bisa didesain sendiri. Nggak perlu mahal-mahal lagi kan buat bayar arsitek karena sudah diarsiteki diri sendiri. 


Sampai detik aku mau lulus kuliah, orang tuaku belum mempunyai rumah pertama mereka setelah berpuluh tahun menikah dan anak-anaknya besar. Selama ini kami hanya mengandalkan rumah dinas yang dipinjamkan oleh kantor. Berpindah rumah dinas dari satu kota ke kota lain, cukup melelahkan juga. Sehingga merasa kebingungan harus tinggal dimana setelah ayahku pensiun dan nggak mendapat fasilitas rumah dinas lagi. Akhirnya aku dan adik-adik bertekad membeli rumah di Malang. Saat itu aku mencari rumah second di koran-koran dan juga info dari teman. Berkat ilmu Arsitektur yang aku punya, aku jadi tahu mana rumah yang bagus, terkonsep dan nyaman ditempati meskipun harus second. Survey ke beberapa rumah second bahkan yang jauh sekalipun kami jabani. Sampai akhirnya kami mendapatkan rumah kecil tapi luas dengan lingkungan yang nyaman dan aman juga. Rumah yang kami beli terlihat luas karena desain ruangannya yang tepat dan terkonsep. 

rumah orang tua desain sendiri (sumber: google street view)



Pengalaman keduaku, setelah lulus kuliah aku langsung mendesainkan rumah yang kedua untuk orang tuaku. Alhamdulilah sudah terbangun dan memuaskan mereka. Punya rasa kebanggaan tersendiri rasanya bisa mendesainkan rumah pertama orang tuaku. Ternyata sudah 12 tahun rumah orang tuaku yang aku desain sudah berdiri. Sampai sekarang menjadi rumah persinggahan aku dan adek-adekku saat pulang kampung. 

Impian Rumah Pertamaku Bersama Suami 


Nah, sekarang saatnya aku bermimpi ingin memiliki rumah pertamaku sendiri dari hasil jerih payahku dan suami. Bicara tentang impian rumah pertama bagiku adalah keinginan yang sudah lama tersimpan karena tidak ingin menumpang terus di rumah mertua. Tapi sayang sekali, dana untuk membeli rumah masih belum ada dan tabungan yang ada pun belum cukup. Apalagi saat ini suami lagi di PHK dari kerjaan sebelumnya. Jadi otomatis akulah yang harus berjuang untuk mencari nafkah buat kita berdua. Meskipun belum memiliki seorang anak, kami berdua tetap berharap memiliki rumah pertama secepatnya dalam waktu dekat ini demi masa depan kami. 


Impian tetaplah impian dan mudah-mudahan segera terwujud. Namun impian rumah pertama ini tetap harus dipertimbangkan baik-baik. Aku dan suami harus saling berdiskusi berdua, maunya punya rumah pertama seperti apa? Maunya sih rumah yang kecil tapi luas dan ada taman di depan serta belakang sehingga membuat asri dan sejuk pemandangan di rumah. Impianku adalah rumah satu lantai dan terdiri dari beberapa ruangan lengkap meskipun kecil, sehingga keakraban dan kehangatan antar anggota keluarga tetap terjaga. 

Pertimbangan Dalam Membeli Rumah Pertama


Untuk memiliki rumah pertama, untungnya suamiku setuju dengan usulan yang aku berikan, namun dia tetap memberikan beberapa pertimbangan yang lain. Berikut adalah beberapa pertinbangan kami berdua ketika ingin memiliki rumah pertama: 

1. Dana untuk membeli rumah pertama 

Saat harus memiliki rumah dengan membeli tunai atau mencicil, kami harus memikirkan dana yang harus dibayarkan. Berhubung membeli rumah itu butuh dana yang besar jadi kami harus mempertimbangkan berapa cicilan yang harus kami keluarkan tiap bulannya. Jangan sampai penghasilan yang didapat tidak mencukupi untuk membayar cicilan atau malah bikin minus. Cicilan yang harus kami keluarkan untuk mempunyai rumah tidak lebih dari 30% penghasilan. Kalau belum cukup kami harus memprioritaskan menabung terlebih dahulu untuk membeli rumah. Tentunya rumah pertama yang akan kami beli adalah rumah yang akan kami tinggali. 

2. Lokasi rumah pertama. 

Impian rumah pertama kami adalah rumah yang lokasinya sangat strategis. Strategis ini artinya dekat dengan fasilitas umum lainnya seperti pasar, sekolah, rumah sakit dan lainnya serta lokasinya terjangkau oleh transportasi publik seperti bus, angkot maupun kereta. Intinya adalah dekat dengan pusat kota serta kalau bisa dekat dengan tempat kerja. 

3. Bahan Material Rumah Pertama 

Impian rumah pertama adalah bahan bangunan atau material yang digunakan bagus, berkualitas dan kokoh sehingga bisa bertahan bertahun-tahun termasuk tahan terhadap cuaca dan angin. Karena rumah adalah untuk ditempati sepanjang masa dalam waktu yang lama. Misalnya temboknya menggunakan batu bata merah berkualitas dengan acian yang tepat, pondasi yang kuat, rangka-rangka rumah sampai dengan atapnya. Material yang digunakan adalah material yang sangat ramah lingkungan (Green living). 

4. Denah rumah pertama 

Yang kami pikirkan pertama kali kalau beli rumah rumah pertama yaitu denahnya. Aku suka rumah yang bagian depan dan belakangnya masih ada tanah kosong untuk ruang terbuka seperti taman. Ada garasi rumah untuk parkir mobil dan sepeda motor. Untuk denah interiornya, paling tidak dalam satu lantai itu ruang-ruang yang ada sudah lengkap seperti kamar tidur minimal 2 buah, ruang tamu, kamar mandi, dapur dan ada juga ruang keluarga. Desain ruang-ruang tersebut memperlihatkan ruangan yang luas meskipun ukuran rumahnya terlihat kecil. Selain itu banyak bukaan-bukaan jendela sehingga mempermudah sirkulasi udara dan masuknya sinar matahari ke dalam rumah. 

5. Air, listrik dan instalasi rumah pertama 

Bagiku air, listrik dan instalasi rumah pertama ini harus diperhatikan benar-benar. Harus tahu jalurnya kemana dan tidak ruwet karena berhubungan juga kalau nanti mau melakukan renovasi agar lebih mudah dan tidak perlu bongkar-bongkar bagian bangunan. Selain itu juga harus eco green. 

Nah itulah beberapa pertimbangan yang aku harapkan untuk rumah pertama. Tapi berhubung tempat tinggal dan tempat kerjaku di Jakarta, aku masih maju mundur untuk mencari rumah pertama dengan lokasi yang cocok. 


Mendapatkan Rumah Pertama Melalui Pembiayaan

Seperti kita ketahui bahwa sekarang kebutuhan rumah ini sangat krusial apalagi ditambah dengan makin bertambahnya jumlah penduduk Indoneaia. Jakarta saja makin tahun makin padat sehingga jumlah lahan terbuka makin sempit. Penduduknya pun hanya beberapa persen yang tinggal dan punya rumah di Jakarta. Selebihnya mereka berdomisili di luar Jakarta dengan resiko jarak tempuh ke tempat kerja yang jauh. Hanya beberapa persen juga yang belum memiliki rumah tetap sebagai tempat tinggal termasuk aku sendiri. 

Rumah Pertama Subsidi Pemerintah (sumber: www.pu.go.id)


Berita bahagianya adalah pemerintah mulai memikirkan kebutuhan rumah ini untuk penduduk yang belum memiliki rumah dan berpenghasilan UMR dengan adanya perumahan subsidi. Hal ini bisa menjadi sebuah jalan buat aku dan suami untuk memiliki rumah pertama sendiri. 

Sekarang pemerintah bahkan sudah mengalokasikan anggaran dengan memberikan bantuan subsidi perumahan sebesar 1.5 triliun yang digunakan untuk 175.000 rumah tangga Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) melalui KPR (Kredit Pemilikan Rumah). Apalagi saat ini kondisi ekonomi sangat terdampak akibat adanya Virus Covid-19. Sehingga pembiayaan untuk memiliki rumah tidak memberatkan rumah tangga. 


Ada beberapa skema yang bisa dipilih oleh kita untuk mendapatkan rumah dengan biaya terjangkau yaitu: 

1. FLPP (Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan). 

FLPP adalah fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan untuk MBR yang pengelolaannya dilaksanakan oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat dengan menyediakan 88.000 rumah tangga MBR. KPR FLPP tersebut dilakukan melalui Lembaga Pengelolaan Dana Pembiayaan Perumahan (LPDPP) bekerjasama dengan Bank Pelaksana. 

2. BP2BT (Bantuan Pembiayaan Perumahan Berbasis Tabungan). 

Adalah program pemerintah kepada masyarakat berpenghasilan rendah melalui kredit atau pembiayaan bank pelaksana dengan memberikan bantuan sebagian uang muka perolehan Rumah atau sebagian dana untuk pembangunan Rumah swadaya. Fasilitas pembiayaan ini menyediakan 67.000 rumah tangga MBR 


3. SSB (Subsidi Selisih Bunga (SSB).

SSB ini akan diopersionalkan tanggal 1 April 2020 oleh Kementerian PUPR dengan melakukan Kerjasama bersama 3 Bank yaitu BTN, BNI dan BRI. Dengan adanya SSB ini, angsuran KPR yang dibayarkan sebesar 5% per tahun selama jangka waktu 10 tahun. Jadi nantinya pemerintah memberikan subsidi sebesar selisih angsuran antara suku bunga pasar dari perbankan serta angsuran yang harus dibayarkan oleh debitur/nasabah. Jumlah rumah tangga yang disediakan yaitu sebanyak 175.000. 

4. Subsidi Bantuan Uang Muka (SBUM) 

SBUM ini juga dioperasionalkan pada tanggal 1 April 2020 oleh Kementrian PUPR. Kita bisa mendapatkan skema pembiayaan SBUM bila ingin melakukan pembelian rumah tapak. Artinya kita nanti akan mendapatkan bantuan uang muka KPR sebesar Rp. 4 juta Tapi khusus untuk Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat SBUM nya sebesar Rp.10 juta rupiah. 


Kesimpulan 

Skema pembiayaan subsidi diatas bisa kita pilih dan disesuaikan dengan kemampuan kita. Persyaratan yang ada harus dipenuhi dengan baik supaya kita bisa mendapatkan rumah pertama yang diinginkan dengan harga yang terjangkau dan disesuaikan dengan penghasilan yang kita miliki. Akhirnya buat kita yang berpenghasilan di bawah Rp. 8 juta per bulan tidak perlu khawatir lagi untuk mendapatakan rumah pertama yang diinginkan. Berkat bantuan pemerintah terutama kementerian PUPR yang bekerja sama dengan Bank-bank, kita pun bisa mendapatkan rumah pertama dengan angsuran yang ringan sehingga kebutuhan pokok kehidupan berupa tempat tinggal terpenuhi dengan baik. 



Referensi:



13 komentar

  1. Syukurnya sekarang PUPR mempunyai banyak program agar rumah pertama kita bisa terwujud. Memang berat banget Mba ambil cicilan perumahan tanpa subsidi. Bunganya naik terus tiap tahun. Sementara penghasilan bekum tentu naik. Apalagi ada anak sekolah.. eeh malah curhat.

    BalasHapus
  2. Semua orang pasti ingin memiliki rumah sendiri. Tapi, memang tidak semudah membalikkan telapan tangan, apalagi di zaman sekarang. Bersyukur sekarang Pemerintah mengadakan program rumah perumahan bersubsidi.

    BalasHapus
  3. Mencari rumah itu ibaratnya seperti jodoh, kadang ada yang sudah sesuai tapi hati suka gak sreg gitu. Alhamdulillah rumah saya sekarang adalah memang impian dari kecil, dulu waktu masih sekolah dasar saya pernah berangan-angan punya rumah seperti apa dan dimana itu sekarang alhamdulillah kesampaian.

    BalasHapus
  4. impian punya rumah pertama setelah menikah itu emang yang paling utama ya Mbak, biar ada tempat kembali yang nyaman.
    enak ya Mbak kalau ada ilmu arsitek gitu, jadi bisa tahu tentang kualitas rumah, bisa ngedesign sendiri juga.
    semoga dilancarkan ya Mbak tuk rumah pertamanya, Aamiin :)

    BalasHapus
  5. Ah benar, setelah menikah pasti pengen tinggal di rumah sendiri ya mbak..
    Semoga dimudahkan

    BalasHapus
  6. Kalau kata temanku yg udah nikah,kalau bisa selain air dan listrik udah bisa juga masuk gas alam. Insya allah terwujud ya mbak impian memiliki hunian idaman, aamiin

    BalasHapus
  7. Semoga lekas mendapatkan rumah pertama ya Mba. Saya pun di awal memutuskan membeli hunian dengan partner saya, masalah kesanggupan dana yang paling awal kami rundingkan.

    BalasHapus
  8. Bahagia seorang anak bisa membuat rancangan arsitek buat orangtuanya. Jadi tahu apa yang harus diperbaiki dan tidak perlu mahal untuk membuat gambar arsitektur rumah orang tua

    BalasHapus
  9. Fase beli rumah ini udah aku lewatin.. Sekarang karena mau balik nempatin rumah sendiri, lagi cari arsitek mbak :)))

    BalasHapus
  10. Rejeki banget bisa memiliki rumah yang sesuai harapan dan impian dengan subsidi.
    Semoga program ini bermanfaat bagi banyak masyarakat yang membutuhkan dan semuanya bisa dilancarkan.

    BalasHapus
  11. Sekarang ada beberapa skema untuk kita memiliki rumah sendiri ya mbak. Semoga bisa terwujud impian untuk memiliki rumah pertama sendiri :)

    BalasHapus
  12. Ahh rumah pertama selalu mengingatkan akan perjuangan di awal pernikahan ya Mbak. Ngga semua orang akhirnya bisa mendapatkannya. Alhamdulillah sekarang Makin banyak cara mendapatkannya khususnya bagi yg terkendala secara ekonomi

    BalasHapus
  13. Memiliki rumah sendiri setelah menikah, mnjadi impian setiap pasangan. Belum mikir buat yang lain-lain kalau belum punya rumah sendiri. Ternyata banyak pilihan skema agar kita bisa mencapai impian untuk memiliki rumah yang nyaman untuk keluarga.

    BalasHapus

Buat kawan-kawan pembaca setia blogku, Bolehkah aku minta sedekah komennya sehabis baca? Supaya jejakmu aku kenali.
Yah.. siapa tahu aku bisa blogwalking balik ke blogmu. Komenmu sangat berarti buat kehidupan blogku. *ealahapaansih.

Supaya blogku terlihat menarik kayak yang kasih komen, tolong yah jangan tinggalin link hidup.

Kecup basah buatmu. 😚😘😚