Si Penjaga Hutan Yang sangat Berjasa dari Kampung Berau



Di sebuah desa yang berada di pedalaman, terdapat sosok yang sangat berjasa demi pelestarian lingkungan desanya. Desa tersebut adalah Kampung Merabu yang berlokasi di sebuah pedalaman Berau, Kalimantan Timur. Jarak dari pusat kota pun cukup jauh sekitar 5-6 jam perjalanan. Di sinilah terdapat masyarakat Daya Lebo. Semuanya masih serba alami. Tak ada pembangunan jalan raya berupa aspal. Sehingga perjalanan menuju ke sini jika naik kendaraan roda 4 cukup menantang. Apalagi musim hujan ,jika menuju jalan ini dengan kendaraan beroda akan terasa sulit. Tapi tak apa, kampung ini sangat bersahabat dan asri.

Keasrian kampung Berau ini berkat jasa dan campur tangan dari seorang anak muda bernama Franly Aprilano Oley dan berusia 29 tahun. Meskioun beliau bukan warga asli dari Kampung Berau, tapi kepeduliannya terhadap kampung yang ia tinggali sekarang sangat luar biasa. Tak diragukan lagi ini adalah hal yang membanggakan, jiwa mudanya telah mengubah dunia kecil menjadi hal yang sangat berarti dan bermanfaat untuk negeri. Kenapa tidak, karena saat ini jarang sekali melihat anak muda begitu tertarik dengan pelestarian alam dan lingkungannya.




Berbeda dengan anak muda lainnya, Franly Aprilano Oley, adalah pejuang yang perjuangannya untuk melestarikan kampungnya menjadi kampung wisata berbuah hasil. Melalui kretifitas dan semangatnya, beliau mampu mengajak warga masyarakat Kampung Berau agar mampu mengelola potensi dari hutan desanya yang memiliki luas sekitar 8.245 hektare. Potensi tersebut adalah menjadikan hutan desanya sebagai kampung wisata tanpa harus merusak alam dan hutan yang ada. Potensi-potensi yang dimiliki oleh hutan dikelola dengan baik melalui skema hutan desa. Hal tersebut dimaksudkan supaya warga mendapatkan kemakmuran dengan menjadikan desanya sebagai desa wisata.

Sebagai penduduk pendatang baru di Kampung Berau, awalnya Franly ahnyal seorang tukang kayu yang membangun sekolah di kampung tersebut. Namun akhirnya menikahi gafis kampung dan menjadikannya istri, bernama Mariana. Lalu mereka dikaruniai 2 orang anak.

Setelah menikah beliau melamar menjadi guru sekolah SD dan saat itu masih honorer. Yang diajarkannya adalah bahasa inggris meskipun beliau adalah lulusan SMK I Tondano jurusan tata busana. Sesekali mengajar kelas lain yang kosong saat gurunya tidak masuk karena keterbatasan SDM guru. Gajinya sebagai guru honorer memang kecil yaitu hanya Rp.300.000 per bulan, tapi teladnya untuk mendidik anak-anak kampungnya sangat besar. Keikhlasannya mengajar benar-benar patut diacungi jempol. Anggap saja ini adalah sebuah pengabdian beliau di kampung ini demi mencerdaskan anak-anak kampungnya.

Namun, beliau tidak hanya mengandalakan gaji gurunya saja . Untuk menambah penghasilan semua pekerjaan beliau kerjakan. Kerja serabutan apa saja yang penting bisa maoan dan dapur tetap.bisa ngebul demi menghidupi istri dan kedua anaknya. Contoh kerja serabutan yang dilakukannya seperti juru langsir (porter) barang, tukang pungut sarang walet, sampai dengan pencari madu. Yang dikwrjakannya yang penting adalah halal dan menghasilkan.

Hingga akhirnya beliau diangkat menjadi Kepala Kampung. Beliau adalah satu-satunya calon tunggal yang mendaftarkan diri dan memenuhi sayarat menjadi Kepala Kampung. Karena warga asli suku Dayak Lebo yang mencalonkan diri tidak ada yang memenuhi syarat. Akhirnya srcara kebwtulan, beliaulah yang terpilihi menjadi Kepala Kampunh.

Dengan jabatannya sekarang, Franly kemudian banyak belajar dari Kepala Kampung di periode-periode sebelumnya. Program-program kampung muali digali dengan cepat dan tangkas. Beliau adalah orng yang cepat sekali belajar.

Dengan melihat potensi bahwa kampung Berau ini memiliki hutan di belakang kampung, akhirnya tercetuslah di dalam benak beliau
Untuk mengelola hutan tersebut dengn baik. Maka dibentuklah lembaga desa Kerima Puri.lebih hebatnya lagi Kerima Puri tersebut nantinya akan dijadikan Badan Usaha Milik Desa.

Hutan yang ada diwujudkan mrnjadi hutan.lindung desa. Dan terwujudlah tujuan tersbut di tahun 2014. Hutan ini hanya diperbolehkan untuk dimanfaatkan oleh warga masyarakatnya mulai dari pemanfaatn hasil alam lainnya seperti madu hutan, rotan, sarang burung walet, dan usaha ekowisata. Tetapi masyarakat dilarang untuk memanfaatkan kayunya.

Potensi lain yang dimiliki oleh hutan wisata Kampung Berau ini yaitu di tengah hutan terdapat Danau Nyadeng dengan air yang jernih. Terdapat juga Gua Beloyot yang memiliki artefak prasejarah berupa jejak tapak tangan manusia purba di dinding guanya. Wah keren amat ya.

Hingga akhirnya pada tahin 2016, Kampung Merabu ini mendapat penghargaan peringkat kedua pengelolaan hutan adat dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Sungguh prestasi yang luar biasa meskipun hanya sebagai juara kedua saja.

Sampai akhirnya Franly diundang sebagai pembicara dengan tema lingkungan. Dari situlah akhirnya melalui tangannya yangdingin, beliau mendapat penghargaan sebagai penerima Satu Indonesia Award.

Tidak ada komentar