Thursday, March 31, 2016

Perjuangan Masa Kecil Mendapatkan Air Bersih

Mengingat masa kecil seperti kembali ke rekam jejak masa lalu. Antara kenangan dan pengalaman yang saya rasakan waktu ini. Banyak hal yang sudah terekam dalam memori saya entah itu hal yang menyenangkan atau pun tidak menyenangkan. Kalau mengingat hal yang menyenangkan pasti saya selalu senyam senyum sendiri. Tetapi kalau mengingat hal yang menyedihkan bawaannya sebel dan geregetan. Sampai sempat menggerutu dalam hati, "Kok bisa ya saya dulu seperti itu? Duh, dulu diriku itu begitu menyedihkan ya? Tapi, kenangan hanyalah tinggal kenangan. Bersyukurlah sekarang kenangan itu hanya bisa dijadikan pelajaran ke depannya dan pasti di balik peristiwa yang dulu saya alami ada hikmah yang sampai sekarang saya rasakan.

Mengingat masa kecil saya sebenarnya tidak menderita sangat. Hanya saja waktu itu saya mengalami proses perjuangan yang cukup berat. Hidup dan tinggal di sebuah asrama atau rumah dinas itu sudah sangat bersyukur sekali. Karena pada saat itu orang tua saya belum mempunyai rumah. Kurang lebih sekitar 20 tahunan saya dan orang tua hidup di rumah dinas. Serba pas-pasan dan hidup seadanya. Tapi kami bahagia. 

Tapi sayangnya hidup di asrama itu ada kendalanya.  Air PAM yang mengalir di rumah dinas seringkali mati. Terpaksa kami semua harus menghemat air dengan mandi hanya 3 gayung saja. Wudhu pun cukup hanya satu gayung saja. Itu pun diirit-irit sangat. Ketika air di bak mandi habis, kita harus mengangkut air dari tempat penampungan air dengan menggunakan ember dari jarak 500 m. Saya melakukannya setiap pulang sekolah dan itu rutin setiap hari. Pada saat itu saya masih duduk di bangku sekolah dasar kelas 6. Sedangkan adikku yang masih kelas 3 pun sudah diwajibkan untuk membantu mengangkut air sampai bak kamar mandi  dan ember-ember di rumah penuh. Meskipun terkadang adik menggerutu karena kecapekan. Tapi mau bagaimana lagi, ini harus kami lakukan karena orang tua kami saat itu dua-duanya bekerja kantoran dan baru pulang ke rumah sore hari. Tentu saja pekerjaan kami dibantu oleh pengasuh kami yang baik hati. Kasihan ya kami yang masih kecil-kecil sudah harus berjuang mencari air bersih. Kalau melihat teman yang lain kok hidupnya tidak sekeras kami berdua. Ah, tapi ya sudahlah jalan hidup tiap orang itu berbeda-beda. Dinikmati saja.

Kalau hari libur, saya dan adik diliburkan untuk mengangkut air. Karena tugas kami sudah digantikan oleh ayah dan pengasuh kami. Sedangkan ibu hanya bertugas bagian beres-beres rumah. Lumayan lo bolak-balik mengangkut air sebanyak 2 ember dengan jarak 500 m. Susah amat sih hidupmu Fan. Yah namanya saja orang hidup itu pasti dari bawah dan pasti ada perjuangan dahulu. Nikmati saja hari hari itu dan syukuri apa yang ada. Walau sempat terkadang merenung, "Kapan sih kamu bisa dengan bebas menikmati air tanpa harus mengangkut ngangkut kayak gini?" Ah, pemikiran anak kecil memang begitu. 

Lebih parah lagi, ketika tempat penampungan air yang biasanya kami ambil itu juga mati dan kehabisan air, kami terpaksa menadah air hujan untuk ditampung sebagai air mandi dan  bukan untuk minum. Kalau untuk air minum, kami terpaksa beli bergalon-galon.

Kebetulan pada saat itu musim hujan, sehingga kami tidak terlalu kesusahan mendapatkan air. Jadi bila hujan turun, saya, pengasuh dan ayah saya langsung buru-buru mengambil ember dan bak air untuk ditaruh di teras depan demi menampung air hujan.  Ahai, saat itu gak ada yang namanya gengsi deh. Karena itu adalah sebuah perjuangan kami untuk mendapatkan air. Mandi dengan air hujan tidak masalah dan terasa sangat dingin sekali ketika kita guyurkan ke  tubuh kita.


Dalam kondisi seperti itu kita masih bersyukur karena perjuangan yang kita hadapi belum berarti apa-apa dibandingkan orang lain yang lebih hidup sengsara dari kita. Selama 20 tahun perjuangan mendapatkan air bersih kami lalui. Sampai akhirnya kami pindah kota dan menempati rumah dinas yang baru dengan air yang sangat cukup untuk minum dan mandi. Alhamdulilah rasa syukur ini tak henti-hentinya.

10 comments:

Helenamantra said...

Mba..itu di daerah mana susah air? kalau udah pernah merasakan gitu jadi bersyukur banget ya sekarang air bersih lancar dan mudah didapat.

Dian Kelana said...

Tinggal di rumah dinas memang harus siap dengan segala kondisi yang ada. Apapun fasilitasnya harus diterima dengan jiwa besar. Karena keadaan tersebut tidak hanya dihadapi sendiri, tapi juga oleh keluarga lain yang tinggal sekomplek.

Titis Ayuningsih said...

Perjuangan banget ya Mbak huaaah.

herva yulyanti said...

Sama mba tp sygnya itu bkn masa kecil tp masa sekarang hahaha sblm pny uang untuk ngebor Alhandulilah skrg berlimpah ruah jd eman2 klo mu make kebiasaan si hehehe salam kenal mba ^^

zata ligouw said...

wah samaan dong mba, tapi kalo aku disuruh nimba sama nyokap, hehehe.. tapi kalo diingat2 sekarang malah seru jadinya :)

FaniaSurya said...

di pulau madura mbk, imi padahal di kota lo. Cuma di rumah dinas saja yg airnya susah, alhamudlilah skg airnya lancar dan tetap menghemat air.

FaniaSurya said...

Betul Pak Dian. Harus hadapi dan syukuri.

FaniaSurya said...

Betul itu mbak. perjuangan selama 20 tahun. hehe

FaniaSurya said...

salam kenal juga mbak. Herva. emang mbk nya di daerah mana bisa kesusahan air?

FaniaSurya said...

loh punya pengalaman sama juga toh mbak zata. Pengalaman tak terlupakan ya. Air itu penting banget buat kehidupan.

Cek-E, Aplikasi untuk Pengguna E-Money pada IWIC 11

Saat ini semua aktivitas dalam bidang apapun sudah mulai mengarah ke teknologi digital. Semua serba canggih dan praktis. Cara-cara konvens...