Saturday, October 24, 2015

Dari Ngeblog menjadi Buku yang Menginspirasi



Berawal dari ngeblog di sebuah platform bernama Blogdetik. Dari situlah saya mulai belajar ngeblog dan semakin hari semakin rajin ngeblognya. Blog saya awalnya hanya berisi puisi-puisi (karena suka puisi) sendiri dan juga tentang keseharian. Kemudian sampai sekarang malah lebih banyak berisi lomba blog dan giveaway sampai dengan review acara.

Dengan menulis Blog membuat saya terbuka dan lebih banyak wawasan. Ngeblog juga mampu mengasah kemampuan menulis saya apalagi kalau sering mengikuti lomba blog dengan berbagai tema. Sebuah keberuntungan tersendiri bila menjadi juara  lomba dan malah ketagihan.  Mengikuti lomba blog itu mengasyikkan lo. Ngeblog sambil blogwalking juga menambah teman sesama blogger, salah satunya yaitu Blog Emak Gaoel yang keren abis deh. Dari situlah kita saling kenalan, kopdaran, bahkan saling ikut menghadiri event-event produk tertentu. 

Dari ngeblog inilah banyak hal yang ingin saya raih. Dulu sebelum ngeblog berkeinginan membuat buku dan menerbitkannya bahkan sempat ingin menjadi penulis terkenal semacam Andrea Hirata. Impian itu masih ada dan tetap berdoa serta berusaha saja agar suatu saat tercapai. Doakan ya..

Berkat blog pula,  saya bisa mempunyai kontribusi tulisan dengan teman-teman sesama blogger dan menjadikan sebuah buku antologi. Ada 4 buku antologi yang saya hasilkan. Alhamdulilah buku-buku tersebut bisa menjadi kebanggaan saya meskipun hanya buku keroyokan.  Sekarang saya sedang merencanakan mimpi yaitu bisa membuat buku sendiri hasil karya saya sendiri. Saya ingin membuat novel. Sudah ada dua draft novel yang saya buat. Semuanya terispirasi dari kisah nyata.  Tapi ternyata bikin novel itu cukup lama ya, karena perlu riset juga.  Itu sedikit hal yang ingin saya capai dari  ngeblog.

Buku antologi yang saya hasilkan berkat ngeblog

Nah... dari mimpi itulah, saya tidak menyangka,  tiba-tiba ada teman saya mengajak untuk menulis buku duet.  Menulis buku? Wah...ini kesempatan nih.  Sebenarnya kita sudah saling kenal sejak kuliah hanya saja sebuah cemistry untuk menulis duet baru muncul kali ini. Saya jadi semangat deh. Inilah yang ingin kami berdua capai. Membuat buku hasil kita berdua. Temanya sih tentang perempuan. Lebih tepatnya tentang kita berdua. Meskipun kita terpisah jauh. Saya di Jakarta dia di Malang, tidak ada halangan menulis buku bareng dong. Komunikasi jarak jauh gak jadi hambatan, kan sudah ada media komunikasi seperti Skype, WA, Line, Message Facebook, BBM yang semuanya bisa dipakai. Kirim gambar dan tulisan untuk dicocokkan satu sama lain pun gampang dong. Doakan ya impian saya dan dia tercapai nih. Bismillah... mudah-mudahan buku yang akan kita buat bisa mencuat dan menginspirasi banyak orang terutama tentang perempuan. Hiyaaa... pede dikit lah... kan kalo gak pede gak jadi-jadi nih buku. 

Ketika ngeblog ada beberapa aplikasi yang saya gunakan baik itu di HP maupun di laptop. Semua aplikasi itu untuk menunjang tulisan dan pemberian gambar-gambar yang menarik. Ini dia aplikasi yang saya gunakan:

 1.          Memo dan Writer

Memo dan writer saya gunakan untuk menulis ketika tidak sedang di laptop. Kalao ada catatan-catatan yang hanya berupa point-point saya tulis di memo. Tapi menulis di memo ada keterbatasan dengan jumlah kata.Sedangkan di Writer saya menulisnya berupa uraian panjang. Saya suka dengan Writer karena setelah menulis langsung tersimpan sendiri tulisannya. Mau nulis sampai ribuan kata pun oke-oke saja. 

Hasil tulisan saya untuk blog di Writer

 2.    Picsart.

Picsart saya gunakan untuk editing foto. Tools sangat lengkap banget deh. Mau memberi efek atau pun memberi tulisan pada gambar juga bisa. Aplikasi ini berguna banget buat saya ketika harus editing foto di HP dan mempublishnya saat itu juga.

Edit gambar di Picsart by HP

 3.        Paint dan Photoshop

Paint saya gunakan untuk menyimpan screenpicture sebuah tulisan atau foto ketika memakai laptop. Saya juga bisa edit foto. Sedangkan dengan Photoshop saya bisa mengedit foto dengan berbagai macam tools yang sangat lengkap banget. Kalau sudah ahli, hasilnya pasti menakjubkan deh.
Mengedit gambar di Paint


Mengedit gambar di Photoshop

 4.        Email dan Bluetooth

Email saya gunakan untuk memtransfer tulisan yang ada di Hp. Saya lebih senang mentransfer tulisan lewat email dan dibukanya di.email laptop. Kalau pakai kabel USB rasanya terlalu ribet. Sedangkan Bluetooth saya gunakan untuk mentrasfer data kalau ada sinyal wifi. 
Mengirim dan mentransfer artikel melalui email


Nah..itulah beberapa aplikasi yang saya gunakan, sebenarnya masih banyak lagi, tapi itu yang utama. Untuk aplikasi yang digunakan di HP tentunya akan lebih mudah dan cepat digunakan bila menggunakan smartphone 4G LTE yang go for it banget deh buat referensi kamu. 

Go For It Blog Competition
/>



Thursday, October 22, 2015

Kain dan Perjalananku dalam Memperkenalkan Batik Tulis Madura


Betapa kayanya negeri tercinta ini. Budayanya, tradisinya, keseniannya bahkan pusaka batiknya yang menggemparkan dunia. Ragam daerah dan wilayah, meskipun itu hanya beda batas wilayah, maka ragam pula jenis batik dan kisah yang tercantum dalam setiap lukisan di batik tersebut. Tak perlu ragulah. Indonesia itu kaya bahkan lebih kaya dari negara lain. Lihat saja kepulauan yang terbentang luas yang terpisah oleh lautan. Itu menandakan indahnya Indonesia. Seperti dalam semboyannya Bhinneka Tunggal Ika. Dalam separuh perjalanan negara ini kini batik mulai dikedepankan. Sejak banyak sekali kebudayaan kita yang dengan sengaja dipatenkan dan diakui oleh negara lain tak terkecuali batik. Sebelum pusaka yang satu ini diakui, selayaknya kita mematenkannya terlebih dahulu.

Batik.. sebuah karya seni dan budaya yang Indonesia miliki adalah maha karya yang tak ternilai harganya. Batik adalah warisan budaya kita, disanalah nenek moyang kita dengan keterampilan tangannya berkreatif melukis dan merangkai batik dengan tetesan tinta yang beragam warnanya hingga menjadi benda yang cantik, unik dan indah bahkan bisa kita kreasikan menjadi bahan pakaian/fashion. Batik merupakan salah satu kekayaan tradisional Indonesia yang harus dilestarikan sebagai ciri budaya bangsa Indonesia. Batik adalah sesuatu yang unik yang hanya bangsa kita saja yang memiliki dan tidak dimiliki oleh bangsa lainnya. Batik sekarang tidak hanya dipakai sebagai pakaian resmi dalam acara-acara kehormatan saja, namun batik bisa digunakan dimana dan kapan saja entah saat jalan-jalan, saat ngemall, saat makan, saat bersilaturrahmi, saat ke luar negeri atau saat-saat yang lain. Batik sudah menjadi sebuah budaya dan tradisi dalam keseharian masyarakat kita. Bila kita memakai batik di negara lain itu adalah sebuah penghormatan bahwa bangsa kita mempunyai ciri dan budaya yang khas dan unik. Apalagi kalau batik digunakan di negeri sendiri adalah sebuah kebanggaan dan kekompakan yang patut diterapkan.

Sebagai warga timur khususnya Madura. Batik menjadi salah satu mata pencaharian di kota saya. Sekarang ini Batik Tulis Madura mulai banyak dicari. Saya cinta dengan batik buatan daerah saya. Kecintaan saya terhadap batik adalah sebuah rasa pengakuan dalam diri bahwa saya adalah orang Madura yang masih masuk dalam wilayah Indonesia. Kecintaan yang akan terus saya tanamkan dalam jiwa, meskipun saya tahu masih banyak orang yang meremehkan sebuah kain batik. Terutama batik tulis yang benar-benar dibuat dengan kreatifitas dan keahlian jemari dalam merangkai setiap tetesan tinta di dalam selembar kain. Perpaduan warna yang menciptakan hasil yang begitu indah dan elegan. Itulah jiwa seni yang patut dipelajari agar kreatifitas pembuatan batik tulis ini tidak hilang dimakan jaman.

Sebagai pecinta batik, banyak hal yang saya lakukan. Saya adalah perantau di negeri orang. Di kota yang benar-benar katanya kejam. Ya itulah kota Jakarta. Sejak merantau di Jakarta inilah, perjalananku dengan batik daerahku dimulai. Bermula dari seorang saudara saya yang kala itu menjual kain batik tulis Madura di Jakarta dan laku berkodi-kodi. Akhirnya saya mencoba memberanikan diri saya untuk memperkenalkan budaya asal saya sendiri. Berhubung Jakarta adalah kota yang majemuk, dimana semua etnis dan suku berkumpul dalam satu kota, dan tak ketinggalan juga banyak orang Madura yang tinggal. Demi kecintaan saya kepada batik, lalu setiap pulang kampung ke Madura saya selalu membawa kain batik tulis Madura yang hanya berupa lembaran kain saja selebar 2 x 1.1 meter. Tidak hanya satu lembar saja yang saya bawa bahkan bisa satu kodi (20 lembar). Bayangkan saat itu saya membawa 1 kodi ke Jakarta yang saya letakkan dalam satu koper kecil. Satu koper saja semuanya berisi kain batik tulis Madura. Tidak hanya kain saja yang saya bawa, baju/hem batik cowok dengan ukuran dan motif yang berbeda pun saya bawa juga. Terasa berat memang membawa kain sebanyak ini. Tapi tak apalah. Toh ini demi tekad saya memperkenalkan batik kepada warga di Jakarta. 

Saya ketika berburu kain batik tulis di pasar daerah saya di Madura  (foto milik Fania Surya)

Kain Batik Tulis Madura dengan beragam corak dan warna (foto milik Fania Surya)


Perjalanan untuk memperkenalkan batik saya mulai. Meskipun perjalanan ini membutuhkan kreatifitas dalam marketing penjualan, tapi berhubung ilmu marketing belum saya punyai, rasa percaya diripun tetap saya tonjolkan. Berbagai keunggulan batik tulis saya ungkapkan pada mereka. Segala rayuan agar mereka membeli pu sudah saya ungkapkan. Ah... sayang beribu sayang. Teman-teman kantor saya banyak yang tidak tertarik dengan batik yang hanya berupa kain. Sebagian besar dari mereka mengatakan bahwa mereka malas untuk menjahitnya. Lebih senang dalam bentuk jadinya saja, misal atasan atau dress. Padahal daerah saya tidak memproduksi bahan jadi, karena kebanyakan berupa kain saja. Inilah yang menjadi pemikiran saya untuk kedepannya. Sebab kalau kain  batik tulis sudah dibuat bahan jadi, maka harganya tentu lebih mahal terutama kalau sudah ada di butik-butik. Batik tulis itu beda dengan batik cap cara pembuatannya. Tentunya lebih murah batik cap. Pembuatan batik tulis membutuhkan keterampilan dan jangka waktu yang lama sampai berhari-hari mulai dari mendesainnya, membatik, memberi motif, mewarnai, mencelup hingga mencucinya bisa dilakukan berulang-ulang kali. Bahan bakunya juga kebanyakan dari bahan alami yang mudah didapat di alam. Sehingga proses pembuatannya sebanding dengan harga pembuatannya. Maka jangan heran kalau kain batik tulis itu lebih mahal. 
Salah satu Kain Batik Tulis Madura yang mahal karena dicelup beberapa kali (foto milik Fania Surya)

Bahkan saat itu ada yang bilang,” Kenapa mahal sekali?”. Rasa sedih merelung dalam jiwa saya. Selain kain batik tulis yang saya bawa tidak laku, kesedihan lainnya adalah saya rasa mereka tidak memahami sebuah karya seni daerah. Mereka hanya bisa mengatakan mahal tanpa melihat sebuah proses bagaimana kain itu dibuat. Mereka hanya melihat selembar kain yang bercorak-corak dan seperti tidak memiliki harga. Ah…sebegitukah cara berpikir masyarakat kita akan sebuah kain batik tulis. Ah…. miris dan sedih.

Perjuanganku tidak hanya sampai disini. Saya coba memutar otak, saya tawarkan kepada pegawai-pegawai abdi negara. Bersyukurlah.. ternyata masih ada diantara orang-orang ini yang masih menghargai sebuah karya seni batik tulis. Meskipun hanya berupa kain tapi mereka sangat antusias sekali membeli batik yang saya bawa. Harga yang mahal bagi mereka tidak masalah karena mereka tahu memang harga kain batik tulis itu mahal tapi kualitasnya oke punya apalagi kain yang sudah mengalami beberapa pencelupan dan semakin lama dicuci, warnanya semakin bagus. Kain yang seperti ini bisa sampai jutaan rupiah. Sebuah seni memang sebanding dengan harganya. Bersyukurlah mereka menyukai batik dan menghargai sebuah seni. Seni bukanlah sesuatu yang murahan. Tapi seni mahal harganya. Namun terkadang banyak diantara kita yang meremehkan tentang seni itu sendiri.

Penawaran kala itu memberikan hasil yang memuaskan. Hampir semua kain batik tulis yang saya bawa habis dan dibeli oleh para abdi negara itu. Syukur alhamdulilah saya ucapkan. Saya tak henti berjuang lagi. Memperkenalkan batik tulis Madura ini kepada dunia. Hasil penjualan sih tidak seberapa hanya beberapa perak saja. Tapi kegembiraanku atas penjualan kain yang lumayan banyak, menjadi sebuah prestasi dan kepuasan batin tersendiri bahwa saya senang mereka bisa melihat arti dari selembar kain. Melihat mereka yang membeli, lalu menjahit kainnya dan dipakai di hadapan saya saja, senangnya bukan main. Bahkan pujian pun tak hentinya saya berikan. Tidak hanya saya saja yang memuji, tetapi teman-teman mereka juga. Kain batik tulis Madura saya cantik dan bagus kalau sudah jadi baju. Benar kan apa kataku?  Kain batik tulis Madura itu keren.

Meskipun masih ada sisa kain dari penjualan, sisanya yang tinggal berapa lembar saja, saya simpan sendiri. Jika saya menginginkannya untuk dijahit, akhirnya saya jahitkan ke tukang jahit sesuai dengan desain dan selera saya. Saya pakai ketika ke kantor atau mengunjungi acara-acara resmi, bahkan ketika jalan-jalanpun saya tetap memakai batik. Sedangkan bila ada pernikahan teman, seringkali kain batik tulis itu saya jadikan kado, agar menjadi pengingat dan kenangan untuk teman yang saya kadoi. Sekaligus untuk memperkenalkan seni daerah saya kepada mereka.  

Kain Batik tulis Madura koleksi saya sendiri (Fania Surya)

Pernah suatu hari, ketika kain batik tulis Madura yang saya jahit sudah jadi dan saya pakai ke kantor. Apa respon teman-teman saya? Mereka begitu kagum dengan hasil jadinya. Mereka tak menyangka. Bahwa dari sebuah kain menghasilkan gaun yang indah dan bagus. Saya hanya bisa tersenyum saja. Saya tak perlu menawarkan lagi kain-kain batik tulis Madura ke kantor saya lagi. Tapi cukup dengan memamerkan hasil jadinya kepada mereka. Alhasil... sebuah karya cipta yang tampak dimata akan menjadi sebuah kekaguman yang tak bisa diungkapkan. Itulah karya nyata yang sebenarnya. 

Saya dan kain batik tulis Madura ketika jalan-jalan di Malang (foto milik Fania Surya)
Saya dan kain batik tulis Madura ketika jalan-jalan ke Monas (foto milik Fania Surya)
saya dan kain batik tulis Madura ketika jalan-jalan ke Kota Tua (foto milik Fania Surya)

Karya cipta saya diakui oleh mereka yang tadinya merasa enggan. Tak berapa lama, kain batik tulis yang tadinya diremehkan, akhirnya mereka mulai mengakuinya. Mereka mulai memesan membeli dan memborong batik saya. Alhasil, saya mulai memesan lagi kain batik tulis Madura langsung dari pengrajin batik di Madura. Meskipun jarak jauh yang harus ditempuh dan harus menghabiskan ongkos kirim yang tak sedikit. Tapi demi tekad saya menjual dan memperkenalkan batik Madura saya lakukan. Sebuah keuntungan bukanlah hal yang saya capai. Tapi sebuah kelestarian suatu seni daerahlah yang ingin saya tampakkan dan tak peduli jika orang  lain meremehkan. Tapi demi kecintaan saya kepada Indonesia. Saya harus mencintai batik daerah saya sendiri.

Tak hanya itu, bahkan ada yang ingin bekerja sama dengan saya untuk membuat butik batik tulis di Jakarta. Ah... perjuangan yang lama untuk mencapai ini semua. Meskipun ini hanyalah sebuah awal dari sebuah pencapaian. Tapi kepuasan tidak hanya sampai disini.

Kapan lagi saya bisa memperkenalkan seni dari daerah saya. Pusaka batik yang nantinya akan diwariskan kepada anak cucu saya. Meski sebagai warga perantau di kota Jakarta ini, saya tak ingin anak cucu saya melupakan asal daerah dan seni budayanya. Saya tak ingin mereka melupakan asal usulnya. Siapa yang akan melestarikan seni batik ini kalau bukan dari diri kita sendiri. Jangan hanya mengandalkan pemerintah saja, justru kitalah yang menjadi pendorong terhadap kelestarian pusaka negeri tercinta ini.

Sebagai warga yang baik. Hargailah apa yang kita punya. Lestarikan setiap jejak seni yang kita miliki. Karena itulah jejak perjuangan kita yang tak kenal waktu. Mari kita lestarikan batik nusantara. Jejak nafas kita untuk masa depan generasi mendatang.



Tuesday, October 20, 2015

Tips Mencintai Local Brand Negeri Sendiri #SmescoNV


Berbicara tentang Local Brand, saya selalu teringat dengan yang namanya gedung SMESCO Indonesia, tepatnya ada di Jakarta Jalan Gatot Subroto Kav 4, Jakarta Selatan.  Gedung SMESCO merupakan pusat UKM Gallery yang memajang berbagai macam lokal brand yang berasal dari berbagai macam daerah di seluruh pulau Indonesia serta pusat konvensi, ruang pertemuan dan kantor. Tahu sendiri kan, berapa pulau yang ada di Indonesia? Ribuan kan? Lalu berapa banyak hasil kebudayaan yang dihasilkan dari masing-masing pulau itu? Haduh…ngitungnya gak kebayang deh. Perlu riset yang panjang. Sudah tahu kan kalau Indonesia itu kaya banget. Saking kayanya budaya masing-masing daerah, tidak aneh deh, kalau orang asing banyak yang tertarik dengan budaya di Indonesia. Bahkan tak jarang mereka juga dibela-belain kursus dan belajar seluk beluk kebudayaan yang dimiliki oleh tiap daerah di Indonesia ini. Kalau sudah begini, apa kita sebagai orang Indonesia sendiri jadi gak cinta dengan budaya sendiri. Budaya itu kan juga local brand kita. Harga diri kita sendiri. Kalau diakui oleh negara lain, kita hanya bisa apa coba?
 
Tentang SMESCO Netizen Vaganza

Sebagai penduduk rantau yang baru tinggal di Jakarta ini, saya baru pertama kali ini datang ke Gedung UKM Gallery di SMESCO dalam rangka SMESCO Netizen  Vaganza 2015 yang diadakan tanggal 26-27 September 2015 kemarin. Dalam acara ini tidak hanya penampilan panggung seni budaya dan live music dari para siswa sekolah, tapi juga ada acara workshop dan talkshow dari beberapa narasumber yang kece dan ngetop abis deh, diiantaranya yaitu Agustinus Wibowo yang berbicara tentang  'Travel Writing' dan Sacha Stevenson berbicara tentang 'Vlog Tips and Trik'. Seneng banget deh ketemu mereka yang sudah para ahli itu. Saya jadi banyak belajar dan dapat banyak ilmu dari mereka.jadi tidak rugi kalau sesekali datang ke acara seperti ini. 

Food truck dan stand makanan serta panggung music di SMESCO (foto milik pribadi)


Saya berangkat dari pagi hari sampai sore hari, berkutat saja di gedung SMESCO. Beruntung ada teman yang setia menemani, belahan jiwa dan cinta sejati yaitu suami saya. Hitung-hitung jalan-jalan sambil menyerap ilmu. Di gedung SMESCO ini juga terdapat supermarket Seven Eleven kalau kita butuh cemilan-cemilan ringan. Tapi juga ada lo, food truck dengan berbagai macam makanan local yang disediakan untuk memenuhi hasrat kelaparan para pengunjung. Mulai dari gudeg, pecel, soto, bakso, siomay, sate padang, es teller dan banyak lagi deh. Semuanya adalah makanan local Indonesia juga. Asal punya duit, makan apa saja oke lah ya. Yang penting gak kelaparan selama seharian di gedung SMESCO.

 
Berpose dulu di salah satu galery produk kayu SMESCO (foto milik pribadi)

Nah..sebelum acara di mulai, saya sih sempat keliling-keliling di tiap lantai SMESCO ini. Wow…keren amat sih pajangan hasil karya local brandnya yang terpampang dari Sabang sampai Merauke. Semuanya dipajang di etalase tiap lantai gedung SMESCO ini. Ada stand-stand tersendiri dengan diberi nama daerahnya pada bagian depannya. Saya yang penyuka seni dan budaya jadi riang gembira, melihat yang cerah-cerah dari budaya Indonesia ini. Apalagi di salah satu stand tersebut saya melihat batik tulis hasil daerah asal saja, dipajang begitu cantik dan indahnya. Yap… asal saya Madura dan batik tulis Madura itu tuh kebangsaan daerah saya. Apalagi warna kainnya cerah dan cantik-cantik. 

 
Batik tulis Madura di salah satu galery UMKM SMESCO (foto milik pribadi)


Berputar-putar dari lantai satu ke lantai lain, makin kece aja nih hasil seni budaya berbagai daerah di Indonesia. Hasil kerajinan dari tiap daerah itu unik dan khas mulai dari dompet, tas, topi, baju, rok, atasan, hem, makanan dan minuman, sepatu, sandal, dan masih banyak lagi. Kalau mau tahu, mending langsung datang deh ke gedung SMESCO. Dijamin para pecinta etnik pasti suka deh ke tempat ini. Hanya saja harganya sedikit mahal daripada kalau kita beli langsung di daerah asalnya. Sebanding jugalah ya harganya, daripada kita pergi langsung ke daerah asalnya kan butuh biaya akomodasinya. So, jatuhnya mahal juga kan? Bagi saya harga gak masalah untuk sebuah produk lokal, asalkan kualitasnya bagus dan gak kalah dengan produk luar negeri.. Tapi kan namanya seni dan budaya itu pasti mahal dong, dan ini berbanding lurus juga dong dengan kualitas produk lokal yang dihasilkan. Saya sendiri jadi tahu, kalau menelusuri dan mengamati tiap hasil seni dan budaya dari masing-masing daerah di Indonesia itu menjadikan saya paham dan mengenal local brand yang dimiliki tiap daerah. Wawasan saya jadi bertambah dan tidak perlu jauh-jauh ke daerah asalnya. Cukup di gedung UKM Gallery SMESCO semua local brand itu ada. 

Local brand berupa sepatu batik di galery UMKM SMESCO (foto milik pribadi)
 
Karya tangan berupa suvenir di galery UMKM SMESCO (foto milik pribadi)



 
Suvenir dinding dan meja di galery UKM SMESCO (foto milik pribadi)
 
Local brand minuman di galery UMKM SMESCO (foto milik pribadi)
 
Stand produk-produk lokal dari Provinsi Jambi (foto milik pribadi)

Apa Itu Local Brand

Sebuah produk disebut sebagai Local Brand apabila memenuhi 4 syarat yaitu:
  1. Produk tersebut terbuat dari bahan yang berasal dari dalam negeri. Bahan yang dimaksud disini adalah bahan baku untuk pembuatan produknya berasal dari negeri sendiri. 
  2. Tenaga kerjanya juga berasal dari dalam negeri. Nah… dalam hal ini perusahaan atau brand tertentu yang membuat produk mempekerjakan orang-orang Indonesia sendiri dan tidak perlu mendatangkan pekerja asing untuk membuat dan memproduksinya.
  3. Produk tersebut menggunakan merk lokal.Merk Lokal disini seharusnya menggunakan nama dengan penggunaan Bahasa Indonesia atau Bahasa Daerah.
  4. Kepemilikan perusahaannya adalah milik lokal juga.  Nah ini nih, jangan sampai produk yang dihasilkan adalah produk lokal tapi yang memiliki adalah perusahaan luar negeri. Wah bisa berabe deh jadinya.
Nah, dari keempat hal tersebut, apabila salah satu atau keempat syarat tersebut dipenuhi maka produknya bisa disebut sebagai local brand. 

Salah satu produk local yang bisa saya contohkan adalah produk buatan sendiri dari seorang teman saya. Merknya bernama "NUNOBI".  Pemiliknya adalah Dian Nobi. Dia membuat produksi sendiri baju-baju dan gaun-gaunnya dengan menonjolkan bahan lokal dan budaya daerah yaitu tenun ikat. Untuk memperindah desain rancangannya dia kombinasikan dengan bahan lain yang sekiranya tetap menonjolkan ciri khas dari kain tenun tersebut. Karyanya sudah mulai melebarkan sayap ke seluruh penjuru nusantara. Melalui karyanya, dia ingin memperkenalkan salah satu budaya daerah dari Indonesia yang belum membumi. Mudah-mudahan dengan karyanya, local brand sendiri menjadi banyak yang menyukai terutama masyarakat Indonesia sendiri.
Local Brand karya teman saya dari tenun ikat (foto milik Nunobi)


Kalau nanti saya mau membuat local brand sendiri, otomatis salah satu syarat diatas harus terpenuhi dong. Kebetulan nih saya berasal dari salah satu daerah di Madura. Ciri khas Madura itu terkenal dengan batik tulis Maduranya. Sebagai anak bangsa yang cinta dengan daerahnya saya seringkali menggunakan batik tulis Madura yang berupa kain kemudian dijahit sendiri dan digunakan sendiri baik itu untuk gaun maupun untuk atasan. Tak heran juga sih, ternyata setelah saya memakainya, banyak juga lo yang tertarik dengan batik tulis Madura yang saya pakai. Bahkan saya harus mengorder kain batik dari daerah saya sendiri untuk dijual kepada teman saya di Jakarta ini. Lumayankan, selain mengenalkan produk daerah sendiri, juga bisa mendukung semangat mencintai budaya sendiri. 
Koleksi kain Batik Tulis Madura saya sendiri (foto milik pribadi)
 
Saya dan baju batik tulis Madura di tempat pembuatan batik tulis (foto milik pribadi)

Apalagi ketika saya melihat local brand batik tulis Madura saya dipajang di etalase SMESCO kemaren. Wahh.. bahagianya gak ketulungan deh. Seneng produk daerah saya bisa ada disana dan dilihat oleh banyak orang. Kalau bisa sih, nanti orang luar negeri juga mengenal lah ya produk dari daerah saya.

Local brand di Indonesia ini sangat banyak sekali, mulai dari produk pakaian, makanan dan minuman bahkan sampai dekorasi rumah tinggal. Memang benar orang indoensia itu kreatif. Bagaimana tidak kreatif, toh hasil produk yang dihasilkan tidak kalah kok kualitasnya dengan produk luar negeri. Local Brand Indonesia itu unik dan punya ciri khas, jadi sebisa mungkin tidak bisa diakui oleh negara lain. Jangan sampai lah itu terjadi.

Mengapa Harus Local Brand

Sudah saya paparkan diatas bahwa Indonesia terdiri dari berbagai daerah dan pulau yang tersebar luas di wilayah nusantara. Tentunya dong tiap daerah memiliki kekhasan dan keunikan produk yang dimilikinya. Apalagi orang Indonesia itu kreatif dan pintar-pintar contohnya seperti Bapak Habibie yang merupakan putra bangsa dan sudah menciptakan pesawat buatannya sendiri bahkan sudah diproduksi dan dipasarkan. Masih mau minder bagaimana lagi sih masyarakat kita ini dalam keberanian untuk menciptakan produk sendiri? Justru harus bangga dong ya.

Berhubung saat ini memasuki era perdagangan pasar bebas dunia yaitu era MEA (Masyarakat Ekonomi Asean), so sebagai negara yang masih berkembang, kita jangan sampai dong kalah dan tergerus dengan negara-negara maju lainnya. Maka dari itu perlulah kiranya bahkan wajib hukumnya untuk mengembangkan dan menggalakkan upaya mencintai local brand Indonesia sendiri. Kalau masyarakat Indonesianya sudah tidak cinta dengan produk sendiri, bagaimana nasib negara kita di perdagangan pasar bebas nanti? Haruskah terbenam begitu saja? Oh tidak, jangan sampai ya.

Dari hal tersebut diatas, pastinya kita harus bergerak cepat untuk maju dalam perdagangan pasar bebas nanti. Salah satu caranya dengan mencintai local brand Indonesia agar menjadi ujung tombak pemicu kebangkitan produk negara kita di pasar bebas nanti. Terutama nih pengusaha-pengusaha kecil yang sudah mulai banyak muncul di permukaan dan sampai detik ini belum berani menonjolkan diri. Dengan memajukan local brand yang kita punya pastinya perkembangan ekonomi negara kita akan membaik dan rakyat Indonesia bisa lah ya lebih sejahtera lagi hidupnya. Bahkan tidak ada lagi yang namanya pengangguran menjamur di setiap sudut kota. Ya… sebab kalau local brand Indonesia sudah maju dan meningkat, pastinya dibutuhkan para pekerja yang lebih banyak lagi sehingga pendapatan lebih tinggi lagi. Betul tidak kawan?

Tips Mencintai Local Brand

Indonesia sendiri sebenarnya banyak memiliki local brand yang berkualitas oke punya. Bahkan tak kalah juga dengan brand luar yang saat ini sangat diminati berbagai kalangan masyarakat terutama mereka yang tak ingin dibilang kuno. Namun sayang sekali, local brand yang ada malah tak terdengar ngaungnya, karena banyak hal yang mempengaruhinya. Padahal sejatinya orang Indonesia itu sangat kreatif dan suka seni budaya. Rasa percaya diri untuk menonjolkan local brand yang dimiliki oleh masyarakat Indonesia saja yang kurang ditingkatkan. Tidak hanya itu, banyak hal yang mempengaruhi local brand tidak menjadi idaman bagi orang Indonesia sendiri, diantaranya yaitu:

  1. Kurangnya rasa percaya diri bahwa produk local brand lebih berkualitas dan lebih unggul.
  2. Kurang adanya promosi dan strategi pemasaran untuk memperkenalkan local brand kepada masyarakat, baik itu melalui brosur, spanduk, flyer bahkan radio, majalah, Koran dan televisi.
  3. Kurang adanya dukungan dari masyarakat, pemerintah dan swasta dalam memajukan dan mempromosikan local brand Indonesia sendiri karena kebanyakan masyarakat kita lebih mendukung brand luar negeri.
  4. Masyarakat banyak terpengaruh oleh kualitas brand-brand impor, karena terlihat lebih keren dan mewah meskipun dengan harga yang sangat mahal.
  5. Adanya hasrat untuk meniru gaya hidup/lifestyle negara maju yang terlihat lebih modern daripada negara sendiri. Hal ini terutama banyak terlihat dari tayangan-tayangan di televisi sehingga memunculkan persepsi gaya hidup yang berbeda dari budaya negeri sendiri.
  6. Kurang adanya rasa cinta, rasa memiliki dan menghargai  terhadap seni budaya dan local brand Indonesia sendiri.
  7. Kurang kuatnya basis perekonomian kemasyarakatan di dalam negeri.
  8. Kurang adanya workshop dan pelatihan serta seminar-seminar mengenai  cara meningkatkan kualitas dan nilai jual dari local brand dalam negeri serta cara untuk memasarkan local brand tersebut.
Nah, banyak sekali kan halangan yang membuat local brand kita terbenam sampai detik ini. Maka dari itu, halangan-halangan tersebut harus segera diatasi dan dicari solusinya. Mengatasi dan memecahkan solusi tidak hanya tugas produsen local brand itu sendiri lo. Tapi juga perlu adanya dukungan, support dan motivasi dari Pemerintah dan Pihak swasta. Kalau hanya salah satu saja yang bekerja, mustahil local brand akan mendunia di era perdagangan pasar bebas nanti. Mulai dari sekarang, sebaiknya tidak hanya cuap-cuap saja, tapi tindakan yang diperlukan untuk memujudkan mendunianya local brand negara kita. 

Dilihat dari kacamata perkeonomian rakyat Indonesia, orang Indonesia itu kaya-kaya lo. Buktinya nih, kebanyakan dari mereka jalan-jalan ke luar negeri sambil shooping produk-produk sana. Biaya untuk kesana dan shooping saja sudah banyak kan? Bahkan lifestyle yang dipakai pun saat ini sudah brand-brand luar semua. Padahal nih, produk luar itu mahal banget harganya. Apalagi kalau sudah diimpor ke negara kita. Nah.. masak iya sih untuk membeli local brand dari negeri sendiri yang harganya juga setara dengan brand luar saja tidak mau dan tidak mampu. Aneh kan? Sebenarnya kesalahan ini ada dimana sih? 
 
Banyak cara sih yang harus dilakukan agar local brand kita menjadi menonjol, diantaranya yaitu:
  1. Pertama kali sebenarnya harus benar-benar tulus dan ikhlas bahkan berani untuk mencintai local brand sendiri. Nah..dimulailah dari diri sendiri. Kalau diri kita sendiri sudah cinta, baru deh sebarkan dan tularkan pada anak-anak, saudara dan orang-orang di sekitar kita. Sehingga semakin banyak yang cinta dengan produk Indonesia sendiri.
  2. Kalau sudah cinta, otomatis dong senang memakai dan menggunakan produk-produk sendiri mulai dari benda-benda terkecil sampai yang paling besar. Memakai dan menggunakan juga diharapkan membeli dan mengkoleksinya. Terutama kalau ada pameran atau bazaar-bazar yang banyak memamerkan dan menjual produk-produk local. Meskipun harganya mahal, kalau sudah cinta pasti kebeli deh. Jangan cuma dilihat saja, tapi dibeli, dicoba dan dipakai. Kalau semua local brand dibeli dan dipakai oleh orang Indonesia sendiri, bakalan makmur deh negara kita.
  3. Jangan pernah malu bikin local brand sendiri. Kerahkan kemampuan, skill dan kreatifitas kita agar local brand yang kita buat menarik, bermutu, dan berkualitas bahkan tidak kalah dengan produk luar. Berhubung saya seorang netizen dan sekaligus suka membuat local brand sendiri, saya usahakan menulis apa yang saya buat di blog, bisa berupa proses pembuatannya atau tutorial, bahannya dan asalnya.
  4. Patenkan local brand yang kita punya segera mungkin sehingga kecil kemungkinan akan ditiru dan diakui oleh negara lain. Cara mematenkannya cukup dengan mendaftarkan brand kita ke perlindungan hak konsumen yaitu di Direktorat Jenderal Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI). Pematenan local brand ini harus disosialisasikan ke berbagai kalangan produsen dan pemilik local brand di seluruh Indonesia, karena sebagian besar dari mereka tidak paham dan masih belum mematenkan produknya di HAKI.
  5. Lakukan pengemasan produk dengan menarik, unik dan indah sehingga banyak orang yang akan tertarik untuk membelinya.
  6. Lakukan promosi dan pemasaran dengan mekanisme promosi yang juga menarik minat pembeli. Promosi dan pemasaran bisa dilakukan dimasa saja baik di medsos, majalah, dari mulut ke mulut, radio, televisi atau menggunakan brosur, flyer, dan spanduk. Pasarkanlah dan promosikanlah dengan cara marketing yang baik dan menarik. Pemasaran dan promosi ini tentunya banyak membutuhkan bantuan semua pihak, baik itu masyarakat, pemerintah atau swasta. Nah, bagi netizen seperti saya, tiap kali mendatangi acara pameran atau bazaar, usahakan buatlah reportase dengan tulisan yang menarik di blog. Pajang semua foto-foto dari produk lokal yang dipamerkan. Supaya seluruh dunia mengenai local brand kita melalui tulisan kita. Tapi perlu diingat menjadi netizen reportase jangan mengharap dibayar dulu ya, karena bayaran pasti akan mengikuti. Menulislah dulu dengan hati dan tulus ikhlas.
  7. Nah, kalau local brand yang kita punya sudah dibangun, maka supaya tetap bertahan kuatkanlah dan pertahankanlah kualitas barang serta citra dari brand yang kita punya. Jangan sampai hanya gara-gara kesalahan atau mengurangi kualitas sedikit saja, akan berdampak terhadap kurangnya kepercayaan masyarakat terhadap local brand tersebut. Justru masyarakatlah yang akan membantu dan mendorong proses naik turunnya local brand kita di pasaran. Intinya menjaga kepercayaan pelanggan lah ya.
  8. Pakailah brand-brand dengan menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa daerah sehingga ciri khas dan keunikannya tercipta dari nama-nama tersebut. Saya yakin, brand-brand dengan nama Indonesia atau daerah kita gak kalah saing kok dengan brand-brand menggunakan nama-nama bahasa negara lain.
  9. Mengembalikan gaya hidup/lifestyle yang kebarat-baratan kembali menjadi lifestyle kebudayaan sendiri. Artinya kita harus jadi diri kita sendiri dan tak perlulah meniru-niru orang lain yang sebenarnya lifestylenya tidak sesuai dengan budaya timur Indonesia. Mengembalikan gaya hidup bisa dengan tidak lagi mengoleksi produk-produk luar. Tapi mulai menggunakan produk-produk dalam dan selalu hidup dengan sederhana tanpa mementingkan produk luar yang selalu terlihat prestice. Nah, buat netizen pada umumnya terutama yang berfokus pada bidang lifestyle, ayo dong angkatlah lifestyle budaya dan produk kita agar lebih dikenal oleh masyarakat sendiri. Jika sudah dikenal tidak mustahil dong lifestyle negara sendiri akan membudaya dan menggaung hingga ke luar negeri.
  10. Kurangi dan saringlah  tayangan-tayangan atau iklan yang lebih banyak menonjolkan local brand luar  terutama bagi pihak pertelevisian. Tapi perbanyaklah tayangan atau iklan tentang local brand negeri sendiri. Sebab iklan dan tayangan itu sangat berpengaruh besar terhadap gaya hidup masyarakat kita terutama bagi anak-anak yang masih memiliki sifat meniru dan belum bisa membedakan sesuatunya. Bagi pihak pertelevisisan jangan hanya menguatamakan keuntungan bisnis semata tapi yang utama adalah apakah tayangan/iklan itu mampu menciptakan pola pikir dan gaya hidup masyarakat Indonesia lebih sederhana, berbudaya dan beradab lagi.  
  11. Untuk para produsen produk lokal, berbisnis itu bukan untuk diri sendiri, buatlah komunitas  pebisnis produk local, sehingga bisa sharing pengalaman bisnisnya kepada yang lain. Bekerjasamalah dengan masyarakat, pemerintah dan swasta untuk membuat seminar dan workshop tentang bisnis produk lokal yang dibisa dihadiri oleh semua kalangan, kalau perlu biayanya gratis dan murah. Karena selama ini yang saya tahu, setiap seminar bisnis produk terutama dari para pebisnis ternama itu selalu mahal dan tidak bisa dijangkau biaya pendaftarannya. Otomatis, bagi kalangan menengah kebawah yang ingin punya ilmu dari seminar dan workshop tidak bisa menikmati juga. Sayang kan ilmu kok cuma untuk kalangan tertentu saja. Ilmu tuh harus meluas keseluruh kalangan. Nah, untuk kalangan netizen, usahakan tularkan ilmu bisnisnya kepada masyarakat melalui blognya, sehingga bermanfaat bagi orang banyak.

Sudah tahu kan apa itu local brand dan bagaimana agar local brand itu semakin dicintai oleh masyarakat kita? Semuanya sudah saya jelaskan diatas. Faktor utama untuk memulai itu semua adalah dari diri sendiri. Marilah mencintai local brand sendiri. Local brand itu gak jadul kok. Bahkan lebih keren dan lebih unik. Gaungkan negeri kita sendiri ke seluruh dunia bahwa karya kita pun bisa lebih membahana dan mencetarkan lifestyle dunia. Buktikan bahwa jati diri kita itu adalah budaya yang kita bawa dan kita tanam di hati. Mulailah dari diri sendiri. Dari generasi muda seperti saya. Karena di tangan kitalah, brand negeri sendiri akan tetap jaya dan bertahan di kancah internasional.



sumber:
http://www.medanbisnisdaily.com/news/read/2014/08/24/113370/brand-lokal-akan-naik-daun/



Berburu Voucher Murah di BambiDeal

Tiap kali weekend, ada saja keinginan untuk menghabiskan waktu berdua di luar rumah. Selain menghilangkan kebosanan juga supaya terasa leb...